Benteng Portugis (1512) Amurang

Objek wisata sejarah ini berada di jantung kota Amurang Ibukota Kabupaten Minahasa Selatan di Kelurahan Uwuran Satu, Kecamatan Amurang, tepatnya dilokasi Pasar Amurang yang berbelakangan dengan Rumah Tahanan (Rutan) Amurang atau yang lebih dikenal dengan sebutan Sindulang, sangat memudahkan para wisatawan untuk menemukan objek wisata sejarah ini.

Objek wisata ini bisa dicapai dengan waktu tempuh sekitar 1 jam dari Kota Manado ibukota Provinsi Sulawesi Utara, atau 1.5jam dari Sam Ratulangi International Airport Manado dengan angkutan darat.

Di depan Benteng Portugis terdapat tulisan “Benteng Amurang” dengan logo Kabupaten Minahasa Selatan dan logo Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan. Di bagian depan kiri Benteng terpampang tulisan “Cagar Budaya Benteng Portugis (Amurang), dari Kementrian Pendidikan dan Kebudayan, Balai Pelestarian Cagar Budaya Gorontalo, dengan wilayah kerja Sulawesi Utara, Sulawesi Tenga dan Gorontalo. Selain itu terpampang juga Benteng Portugis ini dilindungi Undang-Undang No.11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya.

Benteng Portugis yang berdiri di atas lahan berukuran 25m x 50m dengan tinggi Benteng sekitar 4m jika dilihat dari atas menyerupai huruf 'D". Dahulunya area benteng ini sangat luas, namun akibat peperangan, pembuatan jalan dalam kota, pembangunan, dan populasi penduduk menjadikan areal benteng menjadi kecil sehingga menjadi seperti sekarang ini. Di samping kiri belakang Benteng Portugis, ada tangga naik ke atas Benteng Portugis. Tangga naik ini sangat menanjak tiap anakan tangganya, disebabkan karena disesuaikan dengan tinggi badan orang-orang Eropa yang mendiami benteng ini pada waktu itu. Dahulunya cakupan benteng ini meliputi SD Amurang yang berada di depan Benteng, Gereja GMIM Syalom Sentrum Amurang, Kantor PT.Telkom Amurang. Bagian dalam (atas) benteng tertimbun abu akibat letusan Gunung Soputan di masa lampau.

Sejarah Benteng

Sejarah objek wisata ini dimulai ketika Bangsa Portugis pertama mendarat dan membangun Benteng ini di mulut Teluk Amurang tahun 1512 atau pada awal abad ke-16, dibawah kepemimpinan armada Anthony d’Abreu. Kemudian menyusul bangsa Spanyol mendarat di perairan Mobongo / Kawangkoan Bawah, Kecamatan Amurang Barat, serta membangun benteng yang dinamai 'New Spain'. Namun benteng ini hancur akibat peperangan. Sisa-sisa Benteng Spanyol ini berada di pesisir pantai kompleks Gereja GMIM Kawangkoan Bawah. Benteng Portugis ini sebagai benteng pertahanan dan perlindungan dari perompak pada waktu itu.

Amurang Tempoe Doloe, Tampak Benteng Portugis Di Bibir Pantai

Bahan dasar pembuatan Benteng Portugis dan Benteng Spanyol ini berasal dari batu karang yang di ambil dari pesisir Pantai Amurang yang dicampur dengan putih telur Burung Maleo yang dulunya masih banyak terdapat di wilayah Amurang dan sekitarnya namun mulai mengalami kepunahan karena adanya proyek pembuatan Benteng Portugis yang tentunya membutuhkan jumlah telur Burung Maleo yang sangat banyak.

Benteng Portugis di Amurang pada masa kolonial Belanda (VOC)

Dulunya di dalam benteng dipersenjatai dengan meriam-meriam terutama yang menghadap ke perairan Teluk Amurang untuk menangkis serangan lawan dan terdapat pula berbagai bangunan, barak, gudang dan fasilitas militer lainnya, termasuk sebuah kapel kuno Portugis (gereja kecil). Kapel tersebut terhubung ke Benteng Portugis melalui lorong bawah tanah yang saat ini diperkirakan berada di kedalaman 1.5m terpendam dibawah lantai Gereja GMIM Syalom Sentrum Amurang dan berada tepat di bawah altar gedung gereja GMIM Sentrum. Hal ini terbukti pada waktu Gereja GMIM Syaloom Sentrum Amurang melakukan renovasi, dan menemukan struktur bangunan yang bahan dasarnya mirip dengan bahan dasar Benteng Potugis. Selain itu, ada beberapa lorong bawah tanah lainnya yang berakhir di dekat Sungai Ranowangko, dan ke Pantai Amurang, tetapi sayangnya pintu keluarnya sudah tertutup.

Beberapa meriam dan salah satu sisa meriamnya berada di Lapangan Kompi Cobra C712 di Kelurahan Pondang. Sementara meriam lainnya berada di Kodim 131 Santiago Manado, dan sisanya berada di Tondano. Terpencarnya meriam-meriam ini disebabkan belum adanya Undang-Undang yang mengatur tentang perlindungan dan pelestarian benda-benda bersejarah atau cagar budaya, sehingga para pejabat yang berkuasa pada waktu itu bisa dengan mudah memindahkan barang tersebut.

Tim Balai Arkeologi Manado ( Wil. Kerja Suluttenggo ) sedang melakukan penelitian meriam kuno dari Benteng Portugis Lapangan Kompi Senapan C - Kelurahan Pondang Kec.Amurang Timur - Maret 2014

Benteng Portugis memiliki pintu masuk namun sudah ditutup puluhan tahun yang lalu. Menurut penuturan juru pelihara Benteng Portugis Bpk. Bernard Rumondor, lilin,obor, lampu petromax, bahkan lampu senter selalu akan mati jika dibawah masuk ke dalam Benteng semasa pintunya dibuka. Dahulunya di salah satu dinding Benteng Portugis terpampang peta Kota Amurang dan Minahasa, namun karena faktor alam peta ini mulai rusak dan tak terlihat lagi.

Bekas pintu masuk Benteng Portugis di Amurang, tetapi sudah ditutup puluhan tahun yang lalu dan tangga naik ke bagian atas Benteng Portugis

Banyak masyarakat sekitar benteng masih meyakini jika harta benda, sejarah-sejarah kuno, mata uang kuno bahkan emas Bangsa Portugis, Spanyol dan Belanda masih tersimpan di dalam benteng ini. Ini dibuktikan dengan ditemukan barang-barang kuno seperti uang logam kuno dan benda-benda antik Belanda saat penduduk sekitar benteng menggali lubang sampah, sumur, dll. Sebagian barang-barang peninggalan ini disimpan dan dirawat oleh sejarawan Minahasa Selatan Bpk. Cornelles Elias. Menurut Bpk. Cornelles Elias ada kuburan orang Portugis yang berada di sekitaran Benteng ini berlokasi tepat di Letter A ( Kelurahan Uwuran Satu) tepatnya di belakang Ex. Protestansch Ziekenhuis Amoerang (Rumah Sakit Kalooran Amurang/Rumah Sakit tua, depan Bank Sulut Amurang ). Tapi sayang kuburan tersebut sudah tidak bisa dilihat lagi karena pembangunan pemukiman penduduk.

Percaya atau tidak pintu baja menuju ruang bawah tanah yang diperkirakan menyimpan harta karun di bagian tengahnya serta jalan-jalan ke ruang-ruang lain yang telah tertimbuh reruntuhan dan tanah, sampai saat ini masih tergembok. Upaya demi upaya dari berbagai pihak untuk 'membuka', gembok tersebut namun tidak ada hasilnya “gagal” hingga ketika sebuah tim dari Negeri Belanda beberapa tahun silam mencoba untuk membukanya, tetapi karena status benteng sebagai cagar budaya tentu saja tidak membuahkan hasil. Menurut seorang sejarahwan, jalan-jalan bawah tanah Benteng Portugis ini menembus ke kompleks gereja Sentrum. Tapi pintunya sudah tertutup.

Barang-barang antik yang ditemukan di sekitar Benteng Portugis  di Amurang

Setelah Spanyol menduduki Benteng Portugis pada tahun 1560-1660 karena Portugis kalah perang dengan Spanyol sehinga Amurang sebagai daerah kekuasaan Portugis diserahkan kepada Spanyol, dinding-dinding beton Benteng Portugis termasuk Benteng Spanyol dibongkar pada masa pemerintahan Gubernur Jenderal Herman Daendels (1807 - 1815). Dinding-dinding kedua Benteng ini dimanfaatkan untuk pembangunan jalan di Amurang, dan pembongkaran paling akhir terjadi pada masa pemerintahan Jepang.

Pada sekitar abad ke-17 Benteng ini diduduki oleh Belanda atau VOC / Vereenigde Oostindische Compagnie (Kongsi Perdagangan Hindia Timur). Pada waktu pendudukan Belanda di Stad Amurang (Kota Amurang), penduduk Belanda, Borgo diperintah langsung oleh seorang Opziener Van Den Broek di tahun 1817, Kontrolir Amurang yang berperan rangkap sebagai Komandan Schutterij Detasemen Amurang.

Pada masa kolonial Belanda penataan pemerintahan untuk Stad Amurang ini adalah para kaum Borgo dipimpin kepalanya yang disebut Wijckmeester, sementara orang Tionghoa dikepalai oleh seorang Letnan Cina. Orang Borgo yang memiliki hak-hak istimewa melebihi kaum pribumi sampai kemudian disamakan sebagai orang Minahasa di tahun 1911 bermukim di kompleks dinamai Leter yang kelak memekar menjadi Leter A (kini masuk Kelurahan Uwuran I dan Uwuran II), serta Leter B (kini Kelurahan Ranoiapo). Sedangkan perkampungan Cina (Chinatown), sekarang masuk wilayah Kelurahan Buyungon, semuanya kawasan Kecamatan Amurang. Benteng Portugis ini pernah menjadi tempat kediaman sementara oleh Pendeta-Pendeta Belanda (Nederlandsch Zendeling Genootschap) yang menyebarkan agama Kristen di Minahasa bagian selatan.