Air Terjun Takaan Kilometer 3

Tak dapat disangsikan lagi, potensi wisata Kabupaten Minahasa Selatan (Minahasa Selatan) sudah dikenal di nusantara dan sampai ke penjuru dunia.

Sebut saja Batu Dinding yang terletak di Desa Kilometer Tiga, Kecamatan Amurang yang dicatat sebagai lokasi panjat tebing yang memiliki tingkat kesulitan nomor tiga di dunia. Selain Batu Dinding, Minahasa Selatan juga punya Pantai Moinit yang selalu ramai dikunjungi wisatawan lokal.

Selain kedua destinasi wisata ini, Minahasa Selatan, tepatnya di Desa Kilometer Tiga, Kecamatan Amurang, ada lokasi yang disebut Takaan, ternyata juga memiliki air terjun dengan ketinggian sekitar 18 meter yang eksotis, tak hanya memberi pemandangan alam yang menakjubkan, juga menyimpan kekayaan satwa dan sejarah.

Bagi masyarakat atau wisatawan yang gemar berpetualang, air terjun Takaan merupakan pilihan yang tepat dan kesannya sangat eksotis, terdapat keindahan tebing batu dan banyak kelelawarnya. Lokasi itu bak rumah bagi satwa-satwa. Ada banyak satwa yang tanpa malu 'menyapa' para pengunjung. Jangan heran jika melihat paniki (kelelawar) berterbangan karena dinding tebing memang menjadi lokasi tempat tinggal mereka, tarsius juga bisa Anda temukan di lokasi ini namun habitatnya di atas tebing.

Menjelang sore hari, Pemandangan semakin indah kala pantulan sinar sang surya membuat pemandangan air terjun tampak berbeda jika kita memandang dari bawah dan melihat ke arah atas tebing.

Dari segi sejarah, air terjun Takaan memiliki kisah tersendiri. "Berdasarkan cerita dari para orangtua, dulunya tempat ini sempat dibangun bak air buatan Belanda. Namun kedatangan orang-orang Jepang membuat perkelahian antara kedua kubu tak terhindarkan. Alhasil bom di sana-sini menghancurkan bak air tersebut. Sisa beton bak air yang terbuat dari batu masih ada sampai sekarang. Bahkan tulisan ejaan Belanda dahulu masih tertera, contohnya 'H.Koeme' yang jelas terukir di salah satu peninggalannya yang terletak di tepi sungai.

Perjalanan menuju Air Terjun Takaan bagaikan petualangan. Pertama, Anda harus melewati Desa Uwuran. Jika dari arah pusat kota Amurang, belok ke jalan yang berada tepat di samping Bank Sulut Cabang Amurang.

Anda hanya perlu mengambil jalan lurus tanpa berbelok. Jika masih ragu bisa bertanya kepada warga setempat jalan menuju Desa Kilometer Tiga.

Sayangnya jalan menuju air terjun tidak bisa dilintasi kendaraan roda empat. Sementara untuk kendaraan roda dua hanya bisa diparkir tepat sebelum jembatan karena jembatan yang dibangun terbuat dari batang pohon.

Hanya warga setempat yang berani melewati jembatan tersebut menggunakan kendaraan roda dua jenis trail. Jangan sekali-kali menyeberang jembatan jika jenis kendaraan roda dua Anda tidak sesuai dan Anda kurang yakin menyeberang. Dari lokasi tempat parkir, pengunjung selanjutnya berjalan kaki sejauh kira-kira 2 kilometer.

Suara-suara burung dan air sungai yang mengali,r dengan pepohonan yang tumbuh tinggi, serta dinding batu yang besar menjadi pemandangan yang bisa menemani petualangan anda melintasi perkebunan.

Meski begitu berhati-hatilah ketika melewati jalan setapak dekat sungai karena ukurannya cukup kecil, hanya untuk satu pejalan kaki dengan jurang di samping kiri yang cukup curam.

Tepat di ujung tepi sungai, Anda akan mendapatkan dinding batu yang lebih tinggi. Dari situ, lokasi air terjun sudah sangat dekat. Deburan air terjun semakin terdengar jelas.

Anda perlu melepas sepatu karena harus turun melewati sungai. Lagipula air terjun tersembunyi di balik dinding batu.

Melewati pinggiran sungai, Anda bisa berpegang pada akar pohon yang menjuntai sembari berhati-hati mencari tumpuan kaki karena banyak batu sungai yang licin.

Hanya sekitar 10 langkah saja Anda sudah bisa menikmati pemandangan alam ciptaan Tuhan yang begitu memesona.